Rabu, 01 November 2017

Tentang Yudisiumku di Universitas Negeri Yogyakarta Part 2

Lanjutannya dari part 1 nih Kawans...
Jadi, setelah pendaftaran ujian, maka tinggal nunggu aja deh. Oke, waktu itu jadwal ujian saya keluar dalam waktu satu minggu. Bagaimana rasanya dapat jadwal ujian? Pasti dunk, mules, stress, gak doyan makan, ga bisa tidur, deg-degan dan gejala lainnya.
Setelah pertarungan melawan diri sendiri dan empat dosen penguji, akhirnya selesai juga ujian saya. Langsung lapar seketika... Oh iya, saya lupa. Kemarin 2 hari gak doyan makan karena mau ujian. Hahaha...
Lega??? Pasti dunk. Tapi gak lega-lega banget sih, karena masih harus revisi dan sederet langkah yang lain untuk terdaftar menjadi wisudawan.

1.    Revisi
Status “Lulus dengan Revisi” berarti harus revisi dunk. Aturan yang dicoret-coret sama penguji utama cuma selembar, tetapi revisinya nambah sampai 50 lembar lagi. Oke,aku pororo, eh, aku ra popo.
Proses revisi dimulai dari penguji utama, penguji (pembimbing), sekretaris penguji, dan ketua penguji. Alhamdulillah.. begitu penguji utama memberikan pengesahan, penguji yang lain tinggal mengikuti. Proses revisi selesai dalam waktu 14 hari.

2.    Jurnal
Syarat pendaftaran yudisium harus ada jurnal juga. Berhubung saya sudah habis semangat, pembuatan jurnal agak tersendat. Aturan jurnal dibuat bareng sama revisi, saya buatnya jurnal setelah revisi. Oke... Akhirnya molor deh... Seharusnya dua minggu bisa buat jurnal dan revisi, saya perlu lebih dari 3 minggu untuk menyelesaikan jurnal. Nyesel waktunya terbuang percuma? Belum tuh.. Hahahaha....
Jurnal harus mendapatkan pengesahan dari pembimbing dan kaprogdi. Kemudian di submit di bagian Jurnal, yaitu di Gedung PPs baru lantai 3. Tenang... Kalau tidak ada revisi penulisan jurnal, submit bisa dilakukan dalam waktu yang relatif singkat kok.

3.    Keterangan Bebas Perpustakaan Pasca
Saat pengurusan bebas perpustakaan pasca, wajib banget nih bawa abstrak 2 lembar, file abstrak dan file e-book apupun yang linear dengan jurusan yang kita ambil. Kemudian, pas disana kita akan ngisi formulir. Menurut saya nih, pengurusan ini juga tidak ribet kok. Gak butuh waktu lama juga cuma bikin nyesek aja. Apanya????? Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) diberi tanda dengan dilobangi. Hahaha... Ga keren lagi lah KTM nya.

4.    Keterangan Bebas Perpustakaan Pusat
Jangan lupa isi data online dulu di library.uny.ac.id untuk mengisi data bebas perpustakaan pusat. Kemudian ke perpus pusat sambil bawa buku minimal seharga Rp 50.000,00 dan tahunnya tidak boleh melebihi 3 tahun dari tahun kelulusan. Otomatis buku yang saya beli tidak boleh kurang dari tahun 2014. Kalau sudah isi data online, pengurusan bebas perpus pusat ini cuma butuh waktu 5 menit aja kok. Jadi... Jangan khawatir kalau bakal lama dan ribet.

5.    Pengesahan Direktur
Syarat saat minta pengesahan direktur itu tesis yang sudah direvisi, lembar pengesahan dari penguji, bukti submit jurnal, dan bukti bebas perpustakaan. Aturan sih kita kudu lewat sekdir, baru 2-3 hari kemudian bisa diambil lagi. Akan tetapi, waktu itu kebetulan Direktur mau pergi ke Vietnam selama seminggu. Sehingga, saya harus menghadap sendiri ke Direktur. Otomatis pengesahan bisa saya dapatkan dalam hari yang sama. Walaupun harus menunggu 4 jam lamanya. Aaahhh... Saya merasa sangat beruntung.

6.    Stempel ke Bagian Akademik
Setelah minta pengesahan Direktur, kita kudu minta stempel di bagian Akademik nih. Stempel juga menjadi syarat keluarnya nilai tesis.

7.    Jilid tesis dan soft copy tesis
Tesis yang sudah disusun kemudian digandakan dan dijilid hard cover. Walaupun nanti yang dikumpulkan ke akademik cuma 1 saja sih. Tentu saja hard copy itu dilengkapi dengan file tesis yang dibuat dalam format .pdf atau .rtf dan disimpan dalam CD.

8.    Daftar Yudisium dan Wisuda Online
Cek cek cek cek cek Siakad. Apakah nilai sudah keluar semua. Okelah... Kalau nilai sudah keluar semua maka waktunya mendaftar yudisium dan wisuda secara online. Siapkan juga file foto ijazah dan file ijazah S1 untuk diupload. Jangan lupa juga untuk mencatat kode pembayaran yudisium dan wisuda.

9.    Bayar Yudisium dan Wisuda
Oteweh ke Bank Mandiri depan kampus untuk membayar yudisium dan wisuda. Nanti nominal yang harus dibayarkan dan kemana pembayarannya sudah ada pedomannya. Jadi jangan khawatir akan kebingungan di sana atau khawatir uangnya akan nyasar. Hahaha....

10.    Finalisasi Yudisium dan Wisuda
Online lagi ke siakad sampai pada tahap finalisasi. Nanti akan ada 3 lembar yang perlu dicetak sebagai bukti bahwa kita telah terdaftar menjadi wisudawan pada periode tertentu.

11.    Daftar Yudisium dan Wisuda di Akademik
Perjuangan hampir selesai nih kawans. Saatnya mendaftar yudisium dan wisuda di bagian akademik. Syaratnya bawa tesis yang telah dijilid, file tesis yang telah di CD-kan, fotokopi ijazah dan lembar data dari Siakad. Nanti akan ada bukti bahwa kita telah mendaftar yudisium dan wisuda.

12.    Daftar Ikatan Keluarga Alumni (IKA)
Tahap terakhir dari seluruh proses adalah mendaftar sebagai anggota IKA. Syaratnya cuma bawa slip pembayaran IKA aja kok. Yeeeeyyyy.... Dapat Mug cantik yang bergambar UNY. Hahahaha...

Yeeeessss... selesai. Waktunya pulang kampung dengan membawa kemenangan, sambil menunggu jadwal yudisium saja sih. Selesai tahap ini bukanlah akhir dari segalanya. Memang banyak tantangan di depannya nanti. Tapi nanti lah... Saya masih mau menikmati kebebasan ini. Nyesel waktunya terbuang percuma???? Sekarang iya... Kenapa saya ga bisa yudisium dengan lebih cepat.
Memang mau ngapain kalau yudisium lebih cepat????? Nonton drama korea sepuasnya.

Tentang Yudisiumku di Universitas Negeri Yogyakarta Part 1

Aduuuhhhh... Berdebu banget ini blog.. Ternyata sudah hampir setahun saya meninggalkan kenangan di tempat ini. #Hallaaahhh....
Oke.. Sekarang saya tahu. Membuat tugas akhir tidak semudah yang dibayangkan. Perlu menguras tenaga, emosi, jiwa, raga, dan tentunya biaya untuk menamatkan sebendel kertas yang kemudian dijilid dan dinamai dengan “Tesis”. Tetapi saya beruntung, Alhamdulillah... Semuanya tepat pada waktunya.
Iya sih, memang saya belum wisuda tetapi, yudisium sudah terlewati. Status saya pun berubah dari mahasiswa menjadi pengangguran. Berhubung menjadi pengangguran, hasrat bercerita mulai membara.
Jadi, setahun belakangan ini, saya mulai menyusun Tesis sebagai tugas akhir. Walaupun sudah tua (dibaca: remaja) #kagamaudibilangtua, Alhamdulillah, saya masih diberikan kesempatan untuk menjadi mahasiswa di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Saya tercatat sebagai mahasiswa Program Pascasarjana pada Prodi Manajemen Pendidikan. Alhamdulillah juga.. Perjuangan yang diawali pada November 2015 bisa berakhir tepat waktu di Oktober 2017. Ijazah diserahterimakan nanti pada November 2017.
Sama seperti waktu penyusunan Skripsi di jenjang S1, penyusunan tesis juga sama ribetnya. Ribet menunggu dosen pembimbing, ribet mencari kajian teori yang pas, ribet membuat revisi. Duh... Rasanya sakit tapi tak berdarah.
Baiklah.. Saya akan bercerita tentang alur dan proses saat saya menyusun Tesis sampai dengan pendaftaran sidang tesis di Program Pascasarjanan Universitas Negeri Yogyakarta. Nanti part 2 akan saya lanjutkan cerita tentang proses setelah sidang tesis sampai dengan pendaftaran yudisium. Panjaaaaaaannngggg sekali langkahnya sehingga harus dibuat dalam dua part. #siapkan kopi #siapkanbatakobakar
Ceritaku ini aku tulis pada November 2017. Namanya birokrasi, regulasi ini bisa berubah kapan saja sesuai dengan kebutuhan.

1.    Bimbingan
Bimbingan itu manis-manis asem pahit. Manis kalau ide langsung disetujui oleh dosen pembimbing. Asem kalau hasil kerja keras revisi masih perlu direvisi lagi, dan pahit kalau nungguin dosen pembimbing empat jam tetapi bimbingannya cuma empat menit. Lebih parah lagi kalau ternyata susah mencari dosen pembimbing karena beliau sedang bertugas di luar kota. Dijamin perut akan pusing, kepala mules. #eh #kebalik.
Setelah perjuangan hampir enam bulan, akhirnya... ada senyum cerah ceria juga di muka. Dosen pembimbing memberikan ACC. Oke.. Let’s start another step.

2.    Reviewer
Tahap selanjutnya setelah dosen pembimbing memberikan ACC, maka saya harus mengajukan SK Reviewer. SK Reviewer dibuat di Sekretaris Direktur di lantai 3 Gedung PPs Baru. SK Reviewer dibuat paling tidak dalam waktu tiga hari.
Setelah dapat SK Reviewer, langkah selanjutnya adalah menghadap ke reviewer untuk memberikan review terhadap tesis kita. Kebetulan, reviewer saya waktu itu adalah Dr. Wiwik Wijayanti, M.Pd. yang notabene dosen di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). Walhasil, saya harus keluyuran di FIP. Sesuatu yang asing karena selama ini saya Cuma beredar di PPs, Perpus dan Core UNY. Hahaha...
Seminggu kemudian, Tesis telah selesai di review. Akan tetapi ternyata saya perlu menambahkan sumber buku asing dan jurnal asing untuk menguatkan kajian teori saya. Oke deh.. Langsung cusssss mencari es tebu buat mendinginkan pikiran. Dah terbayang harus lembur lagi deh berselancar di dunia maya (katanya) untuk menambah daftar pustaka.
Selesai revisi, minta pengesahan reviewer kemudian dilanjutkan pengesahan ke dosen pembimbing. Jreng.. jreng.. Siap untuk mendaftarkan sidang tesis.

3.    Bimbingan Abstrak
Sambil minta review tesis dari reviewer, ada baiknya untuk menyerahkan abstrak pada bagian layanan bahasa. Jadi nanti akan ada dosen yang mereview abstrak kita. Maklum, tidak semua  mahasiswa mampu menulis abstrak dalam Bahasa Inggris dengan sempurna.
Saat menyerahkan abstrak, abstrak Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris wajib ditulis dengan spasi 2. Kalau sudah benar, maka reviewer akan memberikan paraf pada abstrak yang dibuat. Biasanya sih, butuh waktu 2-3 hari dalam mereview abstrak.

4.    Bukti lunas SPP
Saat awal semester pasti membayar SPP nih. Slip ini jangan sampai hilang. Slip pembayaran digunakan untuk membuat bukti lunas SPP. Pengurusan bukti ini dilakukan di Bagian Keuangan lantai 1 Gedung PPs Baru. Tenang... Cuma butuh waktu 5 menit saja kok untuk meminta bukti ini.

5.    Semua nilai mata kuliah sudah keluar.
Buka Siakad dan periksa lagi. Pastikan semua nilai mata kuliah sudah keluar. Lengkapnya nilai mata kuliah menjadi syarat wajib dalam mendaftar sidang tesis.

6.    Bebas Plagiasi
Nah.. Regulasi tentang bebas plagiasi baru banget diterapkannya, yaitu mulai bulan September 2017 kemarin. Intinya sih, kita harus mengupload tesis kita ke Turnitin untuk mengetahui tingkat plagiasi dalam tesis kita. Oh iya, maksimal plagiasi adalah 20%. Sehingga, bagi tesis yang plagiasi lebih dari 20% wajib untuk edit lagi agar bisa dapat surat bebas plagiasi. Pengambilan ID dan Password Turnitin atau Surat Bebas Plagiasi ada di bagian Sekdir Lantai 3 Gedung PPs Baru.

7.    Minta tanda tangan Asdir atau Dir untuk persetujuan ujian
Tesis yang sudah siap, abstrak yang sudah ditandatangani oleh reviever, KRS semester 4, bukti dari reviewer, bukti bebas SPP, dan bukti bebas plagiasi dibawa ke sekdir lantai 3 Gedung PPs baru. Tujuannya tentu saja minta tanda tangan dari direktur sebagai salah satu syarat untuk mendaftarkan ujian. Sabaaaarrrr..... Kemungkinan proses ini memakan waktu 2-3 hari bahkan lebih apabila direktur kebetulan tidak ada di tempat.

8.    Mendaftar ujian
Tesis yang sudah ditandatangani oleh Direktur kemudian digandakan rangkap 4 dan jilid dengan warna khas PPs UNY. Merah... Meriah euy. Hihihi... Selanjutnya, kita mendaftar ujian atau sidang tesis di bagian Akademik. Letaknya di basement gedung PPs baru. Tentu saja, penyerahan tesis ini tidak bisa sendirian, mesti ditemani dengan syarat lain, yaitu: abstrak yang sudah ditandatangani oleh reviever, KRS semester 4, bukti dari reviewer, bukti bebas SPP, bukti bebas plagiasi, dan buku bimbingan.
Nanti kita akan dapat bukti pendaftaran ujian. Waktunya sidang akan diberitahukan lebih lanjut lewat telepon maupun SMS yang dikirimkan oleh bagian akademik. Biasanya sih, perlu dag dig dug seminggu sampai mendapatkan jadwal ujian.


Panjang ya? Ribet ya? Ga usah dipikirin, tapi dijalani. Nanti kelar juga kok, yang penting jangan lupa segelas kopi untuk mengawali hari. Hahahaha...

Minggu, 29 Oktober 2017

Tentang Telaga Sarangan

Telaga Sarangan saat pagi

Suatu hari, sang pendekar merasakan bahwa otaknya sudah overload, musuh yang berseliweran tidak mampu dimusnahkan juga. Dia merasakan tubuhnya telah lelah, lemah, letih, lesu, dan lunglai. Mungkin sang pendekar terkena anemia...
#tsaaaaaahhhhh....
Bukan begitu maksud saya... Akhir-akhir ini otakku sudah lelah, kajian teori tidak kelar juga, dan deadline sudah dekat. #derita mahasiswa tingkat akhir. Rasanya, ingin saya makan cicak-cicak di dinding yang diam-diam merayap. Maka, tidak ada pilihan lain ki sanak... Jalan keluar satu-satunya adalah saya harus liburan.... Hahaha... #alasan
Tungtaratunggg taraaatutututuunggg... Demi dewa... Datanglah Ksatria hitam berkuda putih mengajak ke puncak gunung tertinggi.
Okeeee... Mulai...
Jadi... abang sudah sangat terganggu dengan ocehanku yang setiap hari bilang capek. Sumpah... Adek ga kuasa untuk meneruskan perjuangan ini Bang. Adek lelah... #Hahaha... Maka datanglah tawaran untuk sedikit melepaskan kekakuan otak dengan refreshing. Tujuan pacaran halal kita berdua kali ini adalah Telaga Sarangan.
Berangkat dari Jogja dengan semangat membara dan berbekal kendaraan roda dua, melajulah kita melewati hutan dan rimba. Telaga Sarangan, We’re coming.....
Telaga Sarangan sendiri merupakan telaga alami yang berada di lereng Gunung Lawu, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Berada di ketinggian 1.200 meter di permukaan laut, maka jangan heran kalau di sana dingin banget. Suhu udara di sana berkiras antara 15 sampai 20 derajat celcius.. Uhhuuuuyyyy... Berasa di Korea pada musim gugur nih. Hahaha... Tapi.. It’s okay lah. Otak yang panas menjadi dingin seketika.

Rehat sejenak di Cemara Kandang

Perjalanan kami ke Telaga Sarangan dimulai di siang hari. Berangkat dari Jogja via Tawangmangu sekitar jam 12-an. Maklum.. Saya masih ada tugas negara yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Sampai di Telaga Sarangan sudah cukup sore, sekitar jam 4-an sore. Ini bukan indikator jauh atau tidak perjalanannya, karena kita berdua benar-benar menikmati perjalanan. Sepanjang perjalanan apalagi setelah sampai Tawangmangu, mata tidak henti dimanjakan dengan indahnya persawahan dan deretan pepohonan yang menjulang ke langit. Sama sekali tidak ada penyesalan saya memutuskan untuk menepi sejenak di tempat itu.

Suguhan di perjalanan

Sampai di Telaga Sarangan, kita langsung mencari hotel. Ada banyak sekali hotel kelas melati, tetapi untuk hotel kelas bintang, saya kurang paham. Tujuan kita sih mencari hotel yang berada di dekat Telaga, and we get it, Rp 250.000,00 per malamnya. Lumayan sesuailah dengan fasilitas yang ada. Penginapan yang kita dapatkan sangat dekat dengan Telaga, nyaman dan yang pasti ada selimut tebal dan water heater. Tentu saja itu sebagai usaha terakhir dalam mepertahankan diri dalam dinginnya udara malam ini. #Halllaaaahhhh....

Kabut saat sore. So sexy...

Saat malam telah tiba, perut krucuk-krucuk mencari pelampiasan, maka kita berdua keluar dari penginapan. Astaagaaaaaa.....  Sambil bisik-bisik, “Abang, ini gpp? Kenapa sepi kaya gini???” Mendadak kita merinding seketika. Maklum, kita datang saat hari Kamis, otomatis tidak banyak pelancong yang menginap, bahkan warung makan pun tutup. Walapun begitu... Alhamdulillah,.. Perut kita tertolong oleh Angkringan. Hadeeehhh... Enggak di Jogja, enggak di Jakarta, dan sekarang di Telaga Sarangan, nasi kucing masih menjadi idola utama.
Menurut saya, saat paling epik dan cincay untuk menikmati Telaga Sarangan adalah waktu pagi hari. Apalagi waktu saya kesana, cuaca sedang cerah ceria. Sama seperti hatiku. Hahaha...

Salah satu spot di Telaga Sarangan

Ada beberapa fasilitas yang bisa digunakan untuk menikmati keindahan Telaga Sarangan. Kita bisa menyewa kuda untuk berkeliling telaga. Berhubung saya takut naik kuda, akhirnya.. Skip.. Walaupun dikasih bumbu muka kecut abang yang ngebet pengen naik kuda.
 Kalau tidak takut air, bisa juga killing the time dengan sewa jetski atau naik perahu kecil mengelilingi telaga. Pada bagian ini, abang males basah dan saya takut maen air sendirian. Terpaksa dengan berat hati dan sedikit ngambek, harus skip. #Gantian ngambek ceritanya. Hahaha...
Eh.. Bisa juga loh memancing di Telaga Sarangan. Walaupun saya cuma berjalan di pinggiran saja, kelihatan kok banyak ikan yang besar yang berlarian di sana. Sayang banget, kita tidak membawa peralatan memancing, jadi tidak bisa teriak “straight” macam acara tipi-tipi itu.
Terus? Kalian ngapain di sana????
Kita??? Berfoto. Hahahaha... Memang sih tidak banyak yang kita lakukan selama di Telaga. Kita hanya duduk bermesraan, pacaran halal, bercerita tentang rencana masa depan, dan mengenang masa lalu saat awal bertemu. Hahahaha... Enggak ding. Kita memang hanya menikmati suasana dari pinggir telaga. Tapi yakin deh, waktu dua jam buat ngobrol di sana sama sekali tidak terasa.

Pagi yang cerah ceria 

Sebelum pulang, kita melihat-lihat toko oleh-oleh yang terdapat di sekitar Telaga Sarangan. Banyak sekali yang dijual di sana. Pasti dunk ada kaos yang bertuliskan Telaga Sarangan atau I Love Jatim. Harganya juga tidak membuat kantong menjerit sih. Cukup aman untuk mahasiswa seperti saya.
Saat belanja begini ini deh abang mulai kumat romantisnya, gandeng tangan dengan erat. Padahal tujuannya dia cuma satu. Biar saya tidak kalap belanja. Secara, saya paling hobi mengumpulkan pernak pernik saat berkunjung dari satu tempat ke tempat lain. #tssaaaahhhhh... Baiklah. Hari ini saya yang kalah. Tidak ada satupun yang bisa saya bawa pulang. Tetapi tidak apa-apa, suatu saat semoga masih ada waktu untuk ke tempat ini lagi.
Telaga Sarangan ninggal Kenangan.

My partner in crime.. Hahaha...


Lalu, pernahkah kalian berkunjung ke Telaga Sarangan juga kawans?


Note: Cerita ini ditulis pada Desember 2016. Dipublish pada Oktober 2017
x

Jumat, 25 November 2016

Tentang HUT PGRI

Welcome to November.... Yup, November Rain... November yang penuh dengan kenangan dan traktiran. #eeeeaaaaaaa..... Secara, banyak banget ini yang ulang tahun. Abang ulang tahun, adek ulang tahun, si encint ulang tahun, bahkan naunganku pun ulang tahun.

Yup... Sebagai seorang pendidik anak bangsa (Uppssss... Berat banget kayaknya), 25 November itu hari yang sangat penting buat saya, dan buat guru-guru di seluruh Indonesia. Yaaaaayyyyy.... PGRI ulang tahun dan 2016 ini, PGRI udah berumur 71 tahun. Sudah semakin dewasa aja ini organisasi...
Sama seperti tahun-tahun yang telah terlewati, tahun ini juga selalu ada perlombaan antar guru. 

Sumpaaahhh.... Kalau ada lomba kaya gini, jadi semacam pelarian. Kapan lagi bisa ngobrol dengan teman seperjuangan dengan membawa surat tugas. Hahaha... #janganditiru

Tahun ini, saya kebagian mengikuti lomba peranan wanita. Namanya sih peranan wanita, tapi lombanya bikin cerpen. Jadi... Kenapa enggak dibikin nama lomba cerpen gitu aja yak??? Entahlah... Biar hanya Tuhan dan panitia yang tahu.

Cerpen kali ini, mengambil tema “Kebersihan Sebagian dari Iman”. Agak kelabakan juga, secara tema diberitahukan ketika perlombaan dimulai. Tapi, apapun yang terjadi, maju terus pantang mundur. Menulis seadanya, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Daaaannn.... Tarrraaaa..... Cerpen yang dibuat dalam waktu 45 menit selesai juga. Inilah hasil karyaku kawans. Cerpen yang nanggung banget, dan entah kemana arah ceritanya. So sorry... If this’s make you so confuse. Hahaha....

Kesamaan nama dan tempat kejadian, bukanlah sebuah kebetulan. Jadi.... Waspadalah... Waspadalah....


Sepenggal Kisah dari Borneo

Tepat tiga bulan yang lalu, aku menginjakkan kaki di desa ini. Desa Banoa yang terletak di ujung Pulau Borneo menjadi tempat aku bernaung, entah untuk berapa tahun ke depan. Desa yang indah ini menawarkan berjuta kedamaian, masyarakatnya menawarkan keramahan, dan anak-anak kecil menawarkan keluguan. Tentu saja, aku sampai di sini bukanlah tanpa alasan. Aku sendirilah yang memilih untuk mengabdi pada negara dengan mengikuti program SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal), meninggalkan segala bentuk kenyamanan dan kemudahan di tanah kelahiranku, Semarang. Di desa inilah, aku belajar untuk menjadi guru yang mendidik  siswa di tengah keterbatasan.
Selama tinggal di Semarang, tidak pernah aku merasakan kesulitan. Ketika aku bosan, puluhan bioskop dan tempat wisata siap untuk aku jelajahi. Kakiku, rasanya tak pernah kugunakan berjalan jauh karena kendaraan umum siap mengantarku kemana saja. Saat sakit, aku memiliki berbagai pilihan mengenai rumah sakit mana yang akan aku datangi. Tetapi di sini, jangankan bioskop, televisi saja sangat jarang ditemukan. Para penduduk mengandalkan kaki sendiri atau mengendari sepeda tua yang dibeli secara bekas untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Biasanya, mereka akan berbondong-bondong ke kota setiap dua minggu sekali untuk membeli bahan makanan yang tidak ada di desa mereka. Jarak kota sangat jauh dari desa dan membutuhkan waktu tempuh seharian penuh dengan berjalan kaki. Sakit? Haram hukumnya bagi masyarakat di desa ini, karena fasilitas kesehatan sulit untuk dijangkau. Ah... sepertinya aku sangat merindukan kampung kelahiranku.
“Ibu, lihat di atas sana! Awannya membentuk hati ya!” Ucap Jenny membuyarkan lamunanku. “Bukan!! Itu berbentuk bola.” Sanggah Vaul. “Bukan!! Itu tidak berbentuk hati ataupun bola.” Sanggah anak-anak yang lain. Aku hanya tersenyum mendengar celotehan mereka. Inilah kami, inilah ruang kelas kami. Ruang kelas seluas dunia. Tidak ada dinding, tidak ada lantai. Hanya tanah sebagai tempat berdiri dan berlari, serta langit yang luas sebagai atap. Tujuh siswaku siap menjadi ilmuwan untuk memecahkan teka teki di bumi tempat mereka berpijak. “Sudah-sudah... Ayo kerjakan dulu apa yang Ibu minta tadi.” Ucapku melerai mereka.
“Gik ngape kao na?” Ucapku melihat Lase yang sedang asyik di pinggir sungai.  Sepertinya dia sedang asyik menikmati buah yang belum pernah kulihat sebelumnya. “Nian buah Wanyi, Bu. Nyaman rasa buah nian. Aku namu buah ngia ka samak ae’. Jawab Lase dengan polosnya.
“Ibu belum pernah lihat buah itu sebelumnya, sepertinya enak. Akan tetapi, lebih enak lagi kalau sebelum makan, kau cuci tanganmu dulu, Nak. Cuci juga buahnya. Agar bibit penyakit yang ada di buah itu, tidak ikut masuk ke perutmu. Kebersihan itu sangat penting, Nak. Bahkan, kebersihan itu sebagian dari iman” ucapku.
“Iya kau. Kalau tak kau jaga kebersihan, bisa sakit pula kau.” Sambar Vaul yang tiba-tiba ada di belakangku.
“Anak-anak, sudah yuk! Kita ke kelas lagi. Sudah mau hujan ini.” Ajakku setengah berteriak agar mereka mau kembali ke kelas.
“Ibuuuuu.... Saya mau ke belakang dulu. Perutku sakit. Rasanya ingin muntah.” Ucap Lase tiba-tiba ketika kami baru saja sampai ke kelas. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.
“Jenny, Vaul, dan semuanya. Tolong carikan kelapa muda.” Aku yang panik segera meminta bantuan anak-anak.
Tidak lama kemudian, anak-anak sudah berhasil menemukan kelapa muda yang aku minta. “Ini diminum dulu, Nak!” ucapku pada Lase. Sambil menahan sakit, dia menghabiskan semuanya. “Kenapa harus kelapa muda, Bu?” tanya Natanius.
“Kelapa muda bagus sekali untuk mengurangi efek keracunan yang ditimbulkan oleh makanan. Kelapa muda mampu mengurangi efek mual, muntah dan pusing.” Jelasku.
“Benar Bu, sekarang aku tidak merasa pusing lagi. Sudah agak baikan. Mataku tidak gelap lagi.”
“Makanya, kalau mau makan dilihat dulu, bersih apa tidak. Jangan asal telan saja. Lagipula, kenapa kau makan sendiri. Tak kau bagi makanan itu ke kita?” Sanggah Jenny dengan gaya centilnya.
“Iya Bu, saya janji. Akan selalu menjaga kebersihan. Agar kejadian yang barusan tidak terjadi lagi. Yang paling penting adalah, saya tidak akan lagi membuat semuanya menjadi khawatir.” Ucap Lase dengan tulus.
Ahh... Sepertinya, aku mulai jatuh cinta di tempat ini. Tempat yang jauh dari hingar bingar kota, tetapi menawarkan sejuta kedamaian yang tiada duanya.


Akhirnya.... Cerpen yang enggak banget itu, berhasil membawaku ke podium menerima penghargaan sebagai cerita pendek terbaik. #mimpikaliyeeee. Hihihi... Apapun hasilnya, yang jelas saya bahagia. Saya bahagia, saya bersyukur, saya bangga, dan saya sangat menantikan datangnya bulan November. Kayaknya, bukan saya aja sih yang bahagia dengan November, bunga Desember tempat tetangga pun mekar di November.. Labil banget itu bunga.. Hihihihi....

Terima kasih kawans, meluangkan waktu 10 menit kawans yang berharga untuk membaca celotehanku yang enggak banget dan bikin sakit kepala. #sepertinyaakugalaulagi.


Lalu, bagaimana dengan Novembermu kawans...?????

Kamis, 24 November 2016

Tentang Cowok Ganteng Webtoon

Tahun 2016 akan segera berlalu, tetapi rasa-rasanya stok cowok ganteng di tanah air ini tidak juga berkurang... Yup.. Kali ini saya akan bercerita tentang cowok ganteng (versi saya). Sekali lagi, versi saya loh ya. Hihihi...

Saat mendengar kata cowok ganteng, atau cogan, yang terbayang-bayang  di pelupuk mata adalah cowok yang putih, tinggi, badan atletis dan gaya rambut ala-ala masa kini. #Maafkansayacinta. Bukan bermaksud untuk membedakanmu dengan dirinyaaaaa.... Tetapi cogan-cogan yang berkeliaran di webtoon benar-benar membuat silau. Hahaha... Yup, kali ini saya akan menggandeng cogan-cogan versi Webtoon. #ttssaaaahhhh....

Webtoon memang lagi cethar membahana. Melalui tangan-tangan terampil author, muncullah cogan-cogan yang bikin melek mata. Tanpa disadari, demi nungguin cogan ini, saya rela begadang menunggu webtoon up. Arrggghhhh... Cogan never dies. Tapi eh tapi, alur cerita webtoon juga asyik kok, jadi tidak melulu tentang coga saja loh ini.

Daaaaannn.... Inilah cogan-cogan yang membuat hati bermotif bunga-bunga.. #versisaya.

5. Jun – Sweet Escape

Ini nih... Boyband ganteng yang menjadi anggota JI:NX. Sweet Escape masih belum tamat, tapi pesona Jun tidak bisa membohongiku. Hahaha... Ceritanya sih masih seputar kesedihan Jun, tapi wajah sedihnya itu loh, bikin tambah kesengsem.
Deg-degan ya bang? Sama... Hahaha....

Jun dengan rambut hitamnya ketika masih jadi penyanyi kafe. Huuummm... Dilihat dari sisi manapun tetep ganteng yak...

4. Jiho Shin - Untouchable
Cowok ganteng yang gila kebersihan alias terkena Mysophobia ini, bener-bener bikin penasaran. Sekalipun cogan ini tidak mau bersentuhan sama siapapun, tetapi tidak akan mengurangi kegantengannya. Nantinya, Jiho jatuh cinta pada Sia Lee, cewek cantik yang tetanggaan sama dia. Berhubung webtoon ini belum kelar, masih penasaran nih, apakah Jiho bisa bersatu sama Sia. Secara, Sia kan vampir cantik gitu loh. Vampir yang berevolusi, tidak lagi meminum darah manusia, tapi  mengambil energi dari manusia lewat sentuhannya. Hadeeeeeehhhh....
Orang ganteng mah bebas... Hahahaha... Lagi marah aja tetep ganteng.
Pakai kacamata tambah ganteng..

3. Mas (Adimas) – My Pre-Wedding, Pasutri Gaje

Adimas adalah tokoh utama di webtoon My Pre-Wedding dan Pasutri Gaje. Ceritanya sih Adimas ini bekerja sebagai PNS di Kelurahan gitu. Adimas Jatuh cinta dengan cara yang aneh dengan Adek (Adelia). Gegara Adimas lihat Adek nabok kecoa aja tu, Adimas jadi klepek-klepek sama Adek. #tsssssaaahhh... Secara Adimas takut banger sama kecoa. Betewe, kalau saya yang nabok kecoa, emang abang mau sama saya??? Hahahaha... My Pre-Wedding masih bercerita tentang Adimas dan Adek sebelum menikah, sedangkan Pasutri Gaje, dah mulai bahas pernikahan mereka. Duh.. duh... Setelah nikah, Adimas makin ganteng aja tuh...
Adimas dengan pakaian hijau tua ala PNS. Dududududu....
Ganteng, baik, perhatian, dan sayang anak kecil... Kurang apalagi coba. Buruan halalin adek bang. Adek dan capek menunggu abang disini... #Tsssaaahhhh....

2. Olfie – Eggnoid
                                                                                    
Cogan lain yang ga kalah ganteng jatuh pada Olfie (Rolf Kent). Olfie ini pemeran utama di webtoon “Eggnoid”. Sorot matanya yang tajam itu loh, menembus dada, hati, jantung, daaaannn.... Ku tlah jatuh cinta. Hahaha... Olfie masuk ke deretan cogan karena rambutnya hitam (titik). Looohhh???? Entah kenapa, rambut hitam di webtoon itu so sexy. Berhubung Eggnoid belum kelar, penasaran juga nih, Ran akhirnya sama Olfie apa sama Eggy yak??? Hihihihi.... 

Lagi cemburu aja ganteng... Mau lah dek, dicemburuin... Hahaha... #berasatua lihat Olfie pakai seragam SMA.
Ampun dek... Lirikannya itu loh... 

1. Eggy – Eggnoid

Daaaannn... Inilah. Cowok terganteng di webtoon versi saya. Eggy... Cowok polos, berambut pirang yang menetas dari telur. Hahaha... Iya, Eggy tahu-tahu menetas dari telur dan menganggap Kirana (Ran) sebagai mamanya. Eggnoid wajib ditambahkan sebagai webtoon favorit karena gantengnya itu loh... Kebangetan... Huhuhuhu....


Bang-bang... Kira-kira Alfamart, Indomaret, atau Pasar Induk ada yang jual telur Eggy ga ya? Beli satu lah bang... Hahahaha...

Whuaaaa.... Bener yang Ran bilang, tidak baik buat jantung. Roti sobeknya itu loh... Fiuuuhhhh....



Mssih ada bonussssssssnya nih...... Ketika Eggy bertemu Olfie...
Duh Bang... Silau Bang.... Kacamata mana kacamata. Hihihihi...

Sebenernya masih banyak lagi cogan roti sobek versi webtoon... Kalau diceritain di sini semua, gak seru ah. Biar ga penasaran, intip webtoon aja yuk. Ramaikan webtoon... Lariskan karya author dalam negeri.. #Haaalllaaahhh....

Lalu, mana cogan versimu kawans....?????



Senin, 14 November 2016

Tentang All I Ask - Adele

Sebenernya, aku bukanlah sesosok manusia yang senang bernyanyi. #haaalllaaahhhh.... Maksudku, sebagai seorang perempuan, aku ditakdirkan untuk memiliki suara yang “menggemparkan” ketika bernyanyi. Ya.. Sebelas duabelas dengan suara Giant di serial Doraemon mungkin. Sehingga lebih baik aku tak bernyanyi. Hehehehe....

Mungkin juga nenekku di surga sana akan bertanya-tanya. Sekalipun masih memiliki garis keturunan sinden, toh suara nenekku yang asli “nJawani” sama sekali tidak menurun ke aku. Hiksss... Hiksss... Hal ini pulalah yang membuat aku lebih baik menjadi suporter sepakbola daripada harus bernyanyi di muka umum. Aku hanya takut, acara langsung bubar seketika gegara aku bernyanyi. Jangankan bernyanyi, bicara aja aku sering fals. #eh.

Walaupun begitu, aku tetap memposisikan diriku sebagai penikmat musik yang baik. Hanya penikmat loh.. Menikmati versiku. Asli.... Aku ga ngerti juga suara yang bagus sama yang kurang bagus seperti apa, suara yang fals sama yang dibikin fals seperti apa. Aku hanya menikmati musik sesuai dengan kemauan telingaku. Seringkali, sesuai dengan kemauan hatiku. Hahaha....

Berbicara mengenai menikmati musik versiku, beberapa minggu yang lalu, aku dibikin baper sama Mbak Adele. Kenapa ceritanya baru sekarang???? Baru sempat (titik). Hahahaha....

Bukan rahasia lagi kalau Mbak Adele memang memiliki suara yang menggelegar. Nada tingginya itu loh... Seksi banget. Beberapa tahun lalu pun si mbak pernah menggegerkan kancah pernyenyongan dunia dengan single “Someone Like You”. Mulai dari anak-anak SMP, anak muda, orang tua sampai mas-mas yang ngamen di bis umum pun tak ketinggalan menyanyikan lagu tersebut. Atau lagu  “Hello” yang rilis tahun lalu pun nyatanya sukses buat para mantan nangis kejer dan jejeritan pengen balikan. #aaiisssshhhh.....

Daaannn... Lagu yang bikin aku baper beberapa minggu yang lalu ialah hasil kolaborasi antara Bruno Mars dan Adele di Album 25. Yuuuppp.... Apalagi kalau bukan lagu yang berjudul “All I Ask”.  Bruno Mars menjadi sosok penting di balik All I Ask selain Mbak Adele nya sendiri, Brody Brown dan Philip Lawrence. Duuuhhh... Mas Bruno, emang dikau paling pinter deh ngiris-iris hati perempuan. Janganlah kau cincang hati adek bang... Sudah cukup kau siksa adek dengan “It Will Rain” #tsssaaaahhh...

Kemampuan Bruno Mars dalam mengobrak abrik hati perempuan dengan permainan katanya yang elegan memang sudah terbukti dan teruji. Sedangkan suara seksi nya Adele selalu sukses memberikan nyawa pada lagu-lagu mellow. Otomatis, kolaborasi mereka berdua di lagu All I Ask ini mampu menambah populasi baperian di Indonesia. Sekali lagi, ini tentang  menikmati musik versiku loh, dan bisa saja berbeda dengan menikmati musik versimu. Kalau lagi pas dengan suasana hati, kawans bisa ikut merasakan emosi penyanyinya, tapi kalau lagi gak pas, ya jatuhnya menguap dan ngantuk... Alunan musiknya cocok buat pengantar tidur.

All I Ask tidak jauh-jauh dengan cerita tentang patah hati. Yup... Lagu ini menceritakan tentang pasangan yang berada di ambang perpisahan. Alih-alih untuk saling berteriak dan mengungkapkan emosi, mereka memilih untuk  saling diam. Apapun yang dilakukan tidak akan mengubah keputusan untuk berpisah. Walaupun pada akhirnya, mereka berdua sepakat untuk mengambil pelajaran dari perpisahan ini. Cerita cinta yang telah dilalui akan dijadikan pengalaman dan jalan untuk saling mengingat satu sama lain.

Menurutku, saat terbaper adalah bagian pertengahan lagu, atau reff. Pada bagian ini, Adele mampu mencurahkan segala emosi dan rasa sakitnya. Rasa-rasanya, bagi kawans yang tengah dilanda keputusasaan dalam hubungan percintaanya tidak akan bisa menahan emosi di bagian ini.
Biar tidak penasaran, aku tuliskan lirik lagunya.

Maafkan daku... Kalau ada penulisan dan terjemahan yang tidak pas. Masih berjuang agar lulus TOEFL ini. Hikksss.... Hiiikkssss.....


Adele – All I Ask


I will leave my heart at the door
I won't say a word
They've all been said before, you know
So why don't we just play pretend
Like we're not scared of what is coming next
Or scared of having nothing left

Akan kutingalkan hatiku di pintu
Aku tak kan katakan satu katapun
Mereka semua telah mengatakan sebelumnya
Jadi mengapa kita tak berpura-pura saja
Seperti kita tak takut apapun yang akan terjadi selanjutnya
Atau takut tak miliki apapun lagi


Now, don't get me wrong
I know there is no tomorrow
All I ask is

Sekarang, jangan salah paham
Aku tahu tak ada hari esok
Semua yang kuminta adalah


If this is my last night with you
Hold me like I'm more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
Cause what if I never love again?

 Jika inilah malam terakhirku bersamamu
Peluk aku seperti aku lebih dari sekedar teman
Beri aku kenangan yang bisa kukenang
Pegang tanganku selagi kita masih saling mencinta
sangat penting bagaimana semua ini berakhir
Karena bagaimana jika aku tak pernah mencintai lagi?


I don't need your honesty
It's already in your eyes
And I'm sure my eyes, they speak for me
No one knows me like you do
And since you're the only one that matters
Tell me who do I run to?

Aku tak butuh kejujuranmu
Hal itu sudah tampak di matamu
dan aku yakin dengan penglihatanku,  mereka berbicara untuk ku
Tak ada yang tahu diriku ku, seperti yang kau lakukan
Dan semenjak kau menjadi satu-satunya yang penting,
katakan padaku siapa yang harus aku tuju?


Now, don't get me wrong
I know there is no tomorrow
All I ask is

Sekarang, jangan salah paham
Aku tahu tak ada hari esok
Semua yang kuminta adalah


If this is my last night with you
Hold me like I'm more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
Cause what if I never love again?

Jika inilah malam terakhirku bersamamu
Peluk aku seperti aku lebih dari sekedar teman
Beri aku kenangan yang bisa kukenang
Pegang tanganku selagi kita masih saling mencinta
sangat penting bagaimana semua ini berakhir
Karena bagaimana jika aku tak pernah mencintai lagi?


Let this be our lesson in love
Let this be the way we remember us
I don't wanna be cruel or vicious
And I ain't asking for forgiveness
All I ask is

Biarlah ini menjadi pelajaran cinta kita
Biarlah ini menjadi cara kita saling menginat
Aku tak ingin menjadi kejam atau jahat
Dan aku tak meminta pengampunan
Semua yang kuminta adalah


If this is my last night with you
Hold me like I'm more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
Cause what if I never love again?

Jika inilah malam terakhirku bersamamu
Peluk aku seperti aku lebih dari sekedar teman 
Beri aku kenangan yang bisa kukenang
Pegang tanganku selagi kita masih saling mencinta
sangat penting bagaimana semua ini berakhir
Karena bagaimana jika aku tak pernah mencintai lagi?


Bagaimana?
Masih kurang baper dan jejeritan??
Masih ada video yang bisa diceki-ceki di bawah ini.




Kawans.... Baper itu boleh saja. Tapi, jangan miara baper juga. Nanti bapernya beranak pinak. Hidup itu ke depan bukan ke belakang. Tinggalkan saja yang membuat sakit, dan pertahankan yang membuat bahagia. Kata orang sih kaya gitu...

Lalu... Sampai kapan kawan mau baper terus? Aku mah ogah... :P