Aduuuhhhh... Berdebu banget ini blog.. Ternyata sudah
hampir setahun saya meninggalkan kenangan di tempat ini. #Hallaaahhh....
Oke.. Sekarang saya tahu. Membuat tugas akhir tidak
semudah yang dibayangkan. Perlu menguras tenaga, emosi, jiwa, raga, dan
tentunya biaya untuk menamatkan sebendel kertas yang kemudian dijilid dan
dinamai dengan “Tesis”. Tetapi saya beruntung, Alhamdulillah... Semuanya tepat
pada waktunya.
Iya sih, memang saya belum wisuda tetapi, yudisium
sudah terlewati. Status saya pun berubah dari mahasiswa menjadi pengangguran.
Berhubung menjadi pengangguran, hasrat bercerita mulai membara.
Jadi, setahun belakangan ini, saya mulai menyusun
Tesis sebagai tugas akhir. Walaupun sudah tua (dibaca: remaja)
#kagamaudibilangtua, Alhamdulillah, saya masih diberikan kesempatan untuk
menjadi mahasiswa di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Saya tercatat sebagai
mahasiswa Program Pascasarjana pada Prodi Manajemen Pendidikan. Alhamdulillah
juga.. Perjuangan yang diawali pada November 2015 bisa berakhir tepat waktu di
Oktober 2017. Ijazah diserahterimakan nanti pada November 2017.
Sama seperti waktu penyusunan Skripsi di jenjang S1,
penyusunan tesis juga sama ribetnya. Ribet menunggu dosen pembimbing, ribet
mencari kajian teori yang pas, ribet membuat revisi. Duh... Rasanya sakit tapi
tak berdarah.
Baiklah.. Saya akan bercerita tentang alur dan proses
saat saya menyusun Tesis sampai dengan pendaftaran sidang tesis di Program
Pascasarjanan Universitas Negeri Yogyakarta. Nanti part 2 akan saya lanjutkan
cerita tentang proses setelah sidang tesis sampai dengan pendaftaran yudisium.
Panjaaaaaaannngggg sekali langkahnya sehingga harus dibuat dalam dua part.
#siapkan kopi #siapkanbatakobakar
Ceritaku ini aku tulis pada November 2017. Namanya
birokrasi, regulasi ini bisa berubah kapan saja sesuai dengan kebutuhan.
1. Bimbingan
Bimbingan
itu manis-manis asem pahit. Manis kalau ide langsung disetujui oleh dosen
pembimbing. Asem kalau hasil kerja keras revisi masih perlu direvisi lagi, dan
pahit kalau nungguin dosen pembimbing empat jam tetapi bimbingannya cuma empat
menit. Lebih parah lagi kalau ternyata susah mencari dosen pembimbing karena
beliau sedang bertugas di luar kota. Dijamin perut akan pusing, kepala mules.
#eh #kebalik.
Setelah
perjuangan hampir enam bulan, akhirnya... ada senyum cerah ceria juga di muka.
Dosen pembimbing memberikan ACC. Oke.. Let’s start another step.
2. Reviewer
Tahap
selanjutnya setelah dosen pembimbing memberikan ACC, maka saya harus mengajukan
SK Reviewer. SK Reviewer dibuat di Sekretaris Direktur di lantai 3 Gedung PPs
Baru. SK Reviewer dibuat paling tidak dalam waktu tiga hari.
Setelah
dapat SK Reviewer, langkah selanjutnya adalah menghadap ke reviewer untuk
memberikan review terhadap tesis kita. Kebetulan, reviewer saya waktu itu
adalah Dr. Wiwik Wijayanti, M.Pd. yang
notabene dosen di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). Walhasil, saya harus
keluyuran di FIP. Sesuatu yang asing karena selama ini saya Cuma beredar di
PPs, Perpus dan Core UNY. Hahaha...
Seminggu
kemudian, Tesis telah selesai di review. Akan tetapi ternyata saya perlu
menambahkan sumber buku asing dan jurnal asing untuk menguatkan kajian teori
saya. Oke deh.. Langsung cusssss mencari es tebu buat mendinginkan pikiran. Dah
terbayang harus lembur lagi deh berselancar di dunia maya (katanya) untuk
menambah daftar pustaka.
Selesai
revisi, minta pengesahan reviewer kemudian dilanjutkan pengesahan ke dosen
pembimbing. Jreng.. jreng.. Siap untuk mendaftarkan sidang tesis.
3. Bimbingan
Abstrak
Sambil
minta review tesis dari reviewer, ada baiknya untuk menyerahkan abstrak pada
bagian layanan bahasa. Jadi nanti akan ada dosen yang mereview abstrak kita.
Maklum, tidak semua mahasiswa mampu
menulis abstrak dalam Bahasa Inggris dengan sempurna.
Saat
menyerahkan abstrak, abstrak Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris wajib ditulis
dengan spasi 2. Kalau sudah benar, maka reviewer akan memberikan paraf pada
abstrak yang dibuat. Biasanya sih, butuh waktu 2-3 hari dalam mereview abstrak.
4. Bukti
lunas SPP
Saat
awal semester pasti membayar SPP nih. Slip ini jangan sampai hilang. Slip
pembayaran digunakan untuk membuat bukti lunas SPP. Pengurusan bukti ini
dilakukan di Bagian Keuangan lantai 1 Gedung PPs Baru. Tenang... Cuma butuh
waktu 5 menit saja kok untuk meminta bukti ini.
5. Semua
nilai mata kuliah sudah keluar.
Buka
Siakad dan periksa lagi. Pastikan semua nilai mata kuliah sudah keluar.
Lengkapnya nilai mata kuliah menjadi syarat wajib dalam mendaftar sidang tesis.
6. Bebas
Plagiasi
Nah..
Regulasi tentang bebas plagiasi baru banget diterapkannya, yaitu mulai bulan
September 2017 kemarin. Intinya sih, kita harus mengupload tesis kita ke
Turnitin untuk mengetahui tingkat plagiasi dalam tesis kita. Oh iya, maksimal
plagiasi adalah 20%. Sehingga, bagi tesis yang plagiasi lebih dari 20% wajib
untuk edit lagi agar bisa dapat surat bebas plagiasi. Pengambilan ID dan Password
Turnitin atau Surat Bebas Plagiasi ada di bagian Sekdir Lantai 3 Gedung PPs
Baru.
7. Minta
tanda tangan Asdir atau Dir untuk persetujuan ujian
Tesis
yang sudah siap, abstrak yang sudah ditandatangani oleh reviever, KRS semester
4, bukti dari reviewer, bukti bebas SPP, dan bukti bebas plagiasi dibawa ke
sekdir lantai 3 Gedung PPs baru. Tujuannya tentu saja minta tanda tangan dari
direktur sebagai salah satu syarat untuk mendaftarkan ujian. Sabaaaarrrr.....
Kemungkinan proses ini memakan waktu 2-3 hari bahkan lebih apabila direktur
kebetulan tidak ada di tempat.
8. Mendaftar
ujian
Tesis
yang sudah ditandatangani oleh Direktur kemudian digandakan rangkap 4 dan jilid
dengan warna khas PPs UNY. Merah... Meriah euy. Hihihi... Selanjutnya, kita
mendaftar ujian atau sidang tesis di bagian Akademik. Letaknya di basement
gedung PPs baru. Tentu saja, penyerahan tesis ini tidak bisa sendirian, mesti
ditemani dengan syarat lain, yaitu: abstrak yang sudah ditandatangani oleh
reviever, KRS semester 4, bukti dari reviewer, bukti bebas SPP, bukti bebas
plagiasi, dan buku bimbingan.
Nanti
kita akan dapat bukti pendaftaran ujian. Waktunya sidang akan diberitahukan
lebih lanjut lewat telepon maupun SMS yang dikirimkan oleh bagian akademik.
Biasanya sih, perlu dag dig dug seminggu sampai mendapatkan jadwal ujian.
Panjang ya? Ribet ya? Ga usah dipikirin, tapi
dijalani. Nanti kelar juga kok, yang penting jangan lupa segelas kopi untuk
mengawali hari. Hahahaha...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar