Telaga Sarangan saat pagi
Suatu hari, sang pendekar merasakan bahwa otaknya sudah
overload, musuh yang berseliweran tidak mampu dimusnahkan juga. Dia merasakan
tubuhnya telah lelah, lemah, letih, lesu, dan lunglai. Mungkin sang pendekar
terkena anemia...
#tsaaaaaahhhhh....
Bukan begitu maksud saya... Akhir-akhir ini otakku sudah
lelah, kajian teori tidak kelar juga, dan deadline
sudah dekat. #derita mahasiswa tingkat akhir. Rasanya, ingin saya makan
cicak-cicak di dinding yang diam-diam merayap. Maka, tidak ada pilihan lain ki
sanak... Jalan keluar satu-satunya adalah saya harus liburan.... Hahaha...
#alasan
Tungtaratunggg taraaatutututuunggg... Demi dewa... Datanglah
Ksatria hitam berkuda putih mengajak ke puncak gunung tertinggi.
Okeeee... Mulai...
Jadi... abang sudah sangat terganggu dengan ocehanku yang
setiap hari bilang capek. Sumpah... Adek ga kuasa untuk meneruskan perjuangan
ini Bang. Adek lelah... #Hahaha... Maka datanglah tawaran untuk sedikit
melepaskan kekakuan otak dengan refreshing. Tujuan pacaran halal kita berdua
kali ini adalah Telaga Sarangan.
Berangkat dari Jogja dengan semangat membara dan berbekal
kendaraan roda dua, melajulah kita melewati hutan dan rimba. Telaga Sarangan,
We’re coming.....
Telaga Sarangan sendiri merupakan telaga alami yang berada di
lereng Gunung Lawu, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Berada di
ketinggian 1.200 meter di permukaan laut, maka jangan heran kalau di sana
dingin banget. Suhu udara di sana berkiras antara 15 sampai 20 derajat
celcius.. Uhhuuuuyyyy... Berasa di Korea pada musim gugur nih. Hahaha... Tapi..
It’s okay lah. Otak yang panas menjadi dingin seketika.
Rehat sejenak di Cemara Kandang
Perjalanan kami ke Telaga Sarangan dimulai di siang hari.
Berangkat dari Jogja via Tawangmangu sekitar jam 12-an. Maklum.. Saya masih ada
tugas negara yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Sampai di Telaga Sarangan
sudah cukup sore, sekitar jam 4-an sore. Ini bukan indikator jauh atau tidak
perjalanannya, karena kita berdua benar-benar menikmati perjalanan. Sepanjang
perjalanan apalagi setelah sampai Tawangmangu, mata tidak henti dimanjakan
dengan indahnya persawahan dan deretan pepohonan yang menjulang ke langit. Sama
sekali tidak ada penyesalan saya memutuskan untuk menepi sejenak di tempat itu.
Suguhan di perjalanan
Sampai di Telaga Sarangan, kita langsung mencari hotel. Ada
banyak sekali hotel kelas melati, tetapi untuk hotel kelas bintang, saya kurang
paham. Tujuan kita sih mencari hotel yang berada di dekat Telaga, and we get it, Rp 250.000,00 per
malamnya. Lumayan sesuailah dengan fasilitas yang ada. Penginapan yang kita
dapatkan sangat dekat dengan Telaga, nyaman dan yang pasti ada selimut tebal
dan water heater. Tentu saja itu sebagai usaha terakhir dalam mepertahankan
diri dalam dinginnya udara malam ini. #Halllaaaahhhh....
Kabut saat sore. So sexy...
Saat malam telah tiba, perut krucuk-krucuk mencari
pelampiasan, maka kita berdua keluar dari penginapan. Astaagaaaaaa..... Sambil bisik-bisik, “Abang, ini gpp? Kenapa
sepi kaya gini???” Mendadak kita merinding seketika. Maklum, kita datang saat
hari Kamis, otomatis tidak banyak pelancong yang menginap, bahkan warung makan
pun tutup. Walapun begitu... Alhamdulillah,.. Perut kita tertolong oleh
Angkringan. Hadeeehhh... Enggak di Jogja, enggak di Jakarta, dan sekarang di
Telaga Sarangan, nasi kucing masih menjadi idola utama.
Menurut saya, saat paling epik dan cincay untuk menikmati
Telaga Sarangan adalah waktu pagi hari. Apalagi waktu saya kesana, cuaca sedang
cerah ceria. Sama seperti hatiku. Hahaha...
Salah satu spot di Telaga Sarangan
Ada beberapa fasilitas yang bisa digunakan untuk menikmati
keindahan Telaga Sarangan. Kita bisa menyewa kuda untuk berkeliling telaga.
Berhubung saya takut naik kuda, akhirnya.. Skip.. Walaupun dikasih bumbu muka
kecut abang yang ngebet pengen naik kuda.
Kalau tidak takut air,
bisa juga killing the time dengan
sewa jetski atau naik perahu kecil mengelilingi telaga. Pada bagian ini, abang
males basah dan saya takut maen air sendirian. Terpaksa dengan berat hati dan
sedikit ngambek, harus skip. #Gantian ngambek ceritanya. Hahaha...
Eh.. Bisa juga loh memancing di Telaga Sarangan. Walaupun saya
cuma berjalan di pinggiran saja, kelihatan kok banyak ikan yang besar yang
berlarian di sana. Sayang banget, kita tidak membawa peralatan memancing, jadi
tidak bisa teriak “straight” macam
acara tipi-tipi itu.
Terus? Kalian ngapain di sana????
Kita??? Berfoto. Hahahaha... Memang sih tidak banyak yang kita
lakukan selama di Telaga. Kita hanya duduk bermesraan, pacaran halal, bercerita
tentang rencana masa depan, dan mengenang masa lalu saat awal bertemu.
Hahahaha... Enggak ding. Kita memang hanya menikmati suasana dari pinggir
telaga. Tapi yakin deh, waktu dua jam buat ngobrol di sana sama sekali tidak
terasa.
Pagi yang cerah ceria
Sebelum pulang, kita melihat-lihat toko oleh-oleh yang
terdapat di sekitar Telaga Sarangan. Banyak sekali yang dijual di sana. Pasti dunk
ada kaos yang bertuliskan Telaga Sarangan atau I Love Jatim. Harganya juga
tidak membuat kantong menjerit sih. Cukup aman untuk mahasiswa seperti saya.
Saat belanja begini ini deh abang mulai kumat romantisnya,
gandeng tangan dengan erat. Padahal tujuannya dia cuma satu. Biar saya tidak
kalap belanja. Secara, saya paling hobi mengumpulkan pernak pernik saat
berkunjung dari satu tempat ke tempat lain. #tssaaaahhhhh... Baiklah. Hari ini
saya yang kalah. Tidak ada satupun yang bisa saya bawa pulang. Tetapi tidak
apa-apa, suatu saat semoga masih ada waktu untuk ke tempat ini lagi.
Telaga Sarangan ninggal Kenangan.
My partner in crime.. Hahaha...
Lalu, pernahkah kalian berkunjung ke Telaga Sarangan juga
kawans?
Note: Cerita ini ditulis pada Desember 2016. Dipublish pada Oktober 2017
x







Tidak ada komentar:
Posting Komentar