Minggu, 29 Oktober 2017

Tentang Telaga Sarangan

Telaga Sarangan saat pagi

Suatu hari, sang pendekar merasakan bahwa otaknya sudah overload, musuh yang berseliweran tidak mampu dimusnahkan juga. Dia merasakan tubuhnya telah lelah, lemah, letih, lesu, dan lunglai. Mungkin sang pendekar terkena anemia...
#tsaaaaaahhhhh....
Bukan begitu maksud saya... Akhir-akhir ini otakku sudah lelah, kajian teori tidak kelar juga, dan deadline sudah dekat. #derita mahasiswa tingkat akhir. Rasanya, ingin saya makan cicak-cicak di dinding yang diam-diam merayap. Maka, tidak ada pilihan lain ki sanak... Jalan keluar satu-satunya adalah saya harus liburan.... Hahaha... #alasan
Tungtaratunggg taraaatutututuunggg... Demi dewa... Datanglah Ksatria hitam berkuda putih mengajak ke puncak gunung tertinggi.
Okeeee... Mulai...
Jadi... abang sudah sangat terganggu dengan ocehanku yang setiap hari bilang capek. Sumpah... Adek ga kuasa untuk meneruskan perjuangan ini Bang. Adek lelah... #Hahaha... Maka datanglah tawaran untuk sedikit melepaskan kekakuan otak dengan refreshing. Tujuan pacaran halal kita berdua kali ini adalah Telaga Sarangan.
Berangkat dari Jogja dengan semangat membara dan berbekal kendaraan roda dua, melajulah kita melewati hutan dan rimba. Telaga Sarangan, We’re coming.....
Telaga Sarangan sendiri merupakan telaga alami yang berada di lereng Gunung Lawu, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Berada di ketinggian 1.200 meter di permukaan laut, maka jangan heran kalau di sana dingin banget. Suhu udara di sana berkiras antara 15 sampai 20 derajat celcius.. Uhhuuuuyyyy... Berasa di Korea pada musim gugur nih. Hahaha... Tapi.. It’s okay lah. Otak yang panas menjadi dingin seketika.

Rehat sejenak di Cemara Kandang

Perjalanan kami ke Telaga Sarangan dimulai di siang hari. Berangkat dari Jogja via Tawangmangu sekitar jam 12-an. Maklum.. Saya masih ada tugas negara yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Sampai di Telaga Sarangan sudah cukup sore, sekitar jam 4-an sore. Ini bukan indikator jauh atau tidak perjalanannya, karena kita berdua benar-benar menikmati perjalanan. Sepanjang perjalanan apalagi setelah sampai Tawangmangu, mata tidak henti dimanjakan dengan indahnya persawahan dan deretan pepohonan yang menjulang ke langit. Sama sekali tidak ada penyesalan saya memutuskan untuk menepi sejenak di tempat itu.

Suguhan di perjalanan

Sampai di Telaga Sarangan, kita langsung mencari hotel. Ada banyak sekali hotel kelas melati, tetapi untuk hotel kelas bintang, saya kurang paham. Tujuan kita sih mencari hotel yang berada di dekat Telaga, and we get it, Rp 250.000,00 per malamnya. Lumayan sesuailah dengan fasilitas yang ada. Penginapan yang kita dapatkan sangat dekat dengan Telaga, nyaman dan yang pasti ada selimut tebal dan water heater. Tentu saja itu sebagai usaha terakhir dalam mepertahankan diri dalam dinginnya udara malam ini. #Halllaaaahhhh....

Kabut saat sore. So sexy...

Saat malam telah tiba, perut krucuk-krucuk mencari pelampiasan, maka kita berdua keluar dari penginapan. Astaagaaaaaa.....  Sambil bisik-bisik, “Abang, ini gpp? Kenapa sepi kaya gini???” Mendadak kita merinding seketika. Maklum, kita datang saat hari Kamis, otomatis tidak banyak pelancong yang menginap, bahkan warung makan pun tutup. Walapun begitu... Alhamdulillah,.. Perut kita tertolong oleh Angkringan. Hadeeehhh... Enggak di Jogja, enggak di Jakarta, dan sekarang di Telaga Sarangan, nasi kucing masih menjadi idola utama.
Menurut saya, saat paling epik dan cincay untuk menikmati Telaga Sarangan adalah waktu pagi hari. Apalagi waktu saya kesana, cuaca sedang cerah ceria. Sama seperti hatiku. Hahaha...

Salah satu spot di Telaga Sarangan

Ada beberapa fasilitas yang bisa digunakan untuk menikmati keindahan Telaga Sarangan. Kita bisa menyewa kuda untuk berkeliling telaga. Berhubung saya takut naik kuda, akhirnya.. Skip.. Walaupun dikasih bumbu muka kecut abang yang ngebet pengen naik kuda.
 Kalau tidak takut air, bisa juga killing the time dengan sewa jetski atau naik perahu kecil mengelilingi telaga. Pada bagian ini, abang males basah dan saya takut maen air sendirian. Terpaksa dengan berat hati dan sedikit ngambek, harus skip. #Gantian ngambek ceritanya. Hahaha...
Eh.. Bisa juga loh memancing di Telaga Sarangan. Walaupun saya cuma berjalan di pinggiran saja, kelihatan kok banyak ikan yang besar yang berlarian di sana. Sayang banget, kita tidak membawa peralatan memancing, jadi tidak bisa teriak “straight” macam acara tipi-tipi itu.
Terus? Kalian ngapain di sana????
Kita??? Berfoto. Hahahaha... Memang sih tidak banyak yang kita lakukan selama di Telaga. Kita hanya duduk bermesraan, pacaran halal, bercerita tentang rencana masa depan, dan mengenang masa lalu saat awal bertemu. Hahahaha... Enggak ding. Kita memang hanya menikmati suasana dari pinggir telaga. Tapi yakin deh, waktu dua jam buat ngobrol di sana sama sekali tidak terasa.

Pagi yang cerah ceria 

Sebelum pulang, kita melihat-lihat toko oleh-oleh yang terdapat di sekitar Telaga Sarangan. Banyak sekali yang dijual di sana. Pasti dunk ada kaos yang bertuliskan Telaga Sarangan atau I Love Jatim. Harganya juga tidak membuat kantong menjerit sih. Cukup aman untuk mahasiswa seperti saya.
Saat belanja begini ini deh abang mulai kumat romantisnya, gandeng tangan dengan erat. Padahal tujuannya dia cuma satu. Biar saya tidak kalap belanja. Secara, saya paling hobi mengumpulkan pernak pernik saat berkunjung dari satu tempat ke tempat lain. #tssaaaahhhhh... Baiklah. Hari ini saya yang kalah. Tidak ada satupun yang bisa saya bawa pulang. Tetapi tidak apa-apa, suatu saat semoga masih ada waktu untuk ke tempat ini lagi.
Telaga Sarangan ninggal Kenangan.

My partner in crime.. Hahaha...


Lalu, pernahkah kalian berkunjung ke Telaga Sarangan juga kawans?


Note: Cerita ini ditulis pada Desember 2016. Dipublish pada Oktober 2017
x

Tidak ada komentar:

Posting Komentar